Kai Havertz menjadi salah satu pemain paling menonjol di skuad Arsenal pada awal musim ini. Meski baru mencetak dua gol dari empat laga perdana Premier League, kontribusi menyeluruh penyerang asal Jerman ini terbukti krusial bagi lini serang asuhan Mikel Arteta.
Sejumlah pengamat sepak bola Inggris menilai Havertz bukan tipe penyerang tengah murni yang hanya mengejar jumlah gol seperti Erling Haaland. Namun, ia mampu tampil di laga-laga besar dan mengangkat performa pemain di sekitarnya, seperti Martin Odegaard dan Bukayo Saka. Statistik juga mencatat performa impresifnya dengan torehan sembilan gol dari 11 penampilan sebagai starter terakhir untuk klub dan tim nasional.
Transformasi di Bawah Mikel Arteta
Performa Havertz di Arsenal saat ini jauh berbeda dibanding saat ia dibeli dari Chelsea senilai 65 juta poundsterling pada 2023. Berbicara dalam sesi tanya jawab dengan suporter di Reddit, Havertz membeberkan aspek apa saja yang berubah dalam permainannya sejak dilatih Arteta.
"Banyak sekali hal yang saya pelajari, saya bahkan tidak bisa menyebutkan semuanya," tulis Havertz. "Hal terbesar—tanpa harus merinci terlalu jauh—adalah kerja tanpa bola saat tim tidak menguasai penguasaan bola."
"Sebelumnya, saya adalah pemain yang sudah berusaha sebaik mungkin, tetapi tidak terlalu kecewa jika kalah dalam duel. Mikel benar-benar mengubah saya sebagai pemain," lanjutnya.
"Saya kini paham betapa pentingnya tugas bertahan, memenangi duel fisik, dan hal-hal semacam itu. Itu adalah perubahan terbesar, meski masih banyak aspek lain yang ia ubah dari diri saya."
Fondasi Pertahanan Arsenal
Perubahan ini sejalan dengan filosofi Arteta yang sangat menekankan pentingnya duel dan etos kerja defensif, yang kini menjadi fondasi kokoh lini belakang Arsenal sebagai salah satu yang terbaik di Eropa.
Musim ini, Havertz tercatat sebagai penyerang dengan jarak tempuh lari terjauh di Premier League. Ia menjadi pemain pertama yang melakukan pressing dari depan, memenangi duel udara, turun membantu pertahanan, lalu tetap mampu masuk ke kotak penalti pada momen yang tepat untuk mencetak gol. Peran hibrida ini membuktikan bagaimana Arteta sukses membentuk ulang profil seorang penyerang modern.